”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Allah SWT berfirman:
لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰٮهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ ۗ وَمَن يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُـؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا .
"Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 114)
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ .
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261)
Ayat ini diturunkan dengan peristiwa Usman bin Affan dan Abdurahman bin Auf di mana bahwa ketika Rasulullah menganjurkan umatnya untuk bershadaqah sewaktu akan berangkat ke medan tempur yaitu pada peperangan Tabuk maka Abdurahman datang dengan memberikan empat ribu dirham dan berkata kepada Rasulullah: saya memilih delapan ribu dirham, saya bagi separoh untuk kehidupan keluarga dan saya sendiri dan yang empat ribu saya pinjamkan kepada Allah, maka Rasulullah mendoakan semoga Allah memberkahi apa yang engkau simpan untuk kebutuhanmu juga apa yang engkau pinjamkan kepada Allah. Lalu Usman berkata : Hai Rasulullah saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang tidak mempunyai. Maka turunlah ayat :
مَشَلُ الَّذِنَ يُنْفِقُوْنَ.
Menurut Al Kalbiyyu dan Muqathil: ayat ini diturunkan sehubungan dengan peristiwa Ali bin Abu Thalib ra. di mana ia mempunyai empat dirham dan tidak mempunyai lain lagi. Setelah ada anjuran untuk shadaqah maka ia bershadaqah satu dirham di malam hari dan satu dirham di siang hari, satu lagi dengan sembunyi-sembunyi dan yang satu lainnya dengan terang-terangan. Maka turunlah ayat:
اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ .
Rasulullah Saw. bersabda:
اِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِىْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَىَّ صَلَاةً .
”Sesungguhnya bagi saya pada hari qiamat orang yang paling utama adalah mereka yang banyak membaca shalawat atas diriku.”
مَامِنْ دُعَاَءٍ إِلَّابَيْنَهُ وَبَيْنَ اللّٰهِ حِجَابً حَتَّى يُصَلِّىَ صَاجِبُهُ عَلٰى مُحَمَّدٍ فَإِذَافَعَلَ ذٰلِكَ خَرَقَ الْحِجَابُ وَاسْتُجِيْبَ لَهُ الدُّعَاءُ.
”Tiada do'a Kecuali di antaranya dengan Allah suatu hijab tabir, sehingga dibacakan shalawat untuk Muhammad, apabila telah dibacakan shalawat maka terbakarlah atau robek hijab itu dan terkabullah do'anya.”
Diriwayatkan oleh Anas Ibnu Malik, bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ”Tatkala Allah menciptakan bumi tapi bumi tersebut selalu bergerak maka diletakkan di atasnya gunung sehingga tenang dan tidak bergerak lagi, sehingga Malaikat kagum dan berkata: Ya Allah apakah dari makhluk-Mu ada yang lebih keras daripada gunung? Allah menjawab: Ya besi lebih keras. Mereka bertanya lagi: apakah ada yang lebih kuat daripada besi. Allah menjawab: Ya, api lebih kuat. Mereka bertanya: apa ada dari makhluk-Mu yang lebih kuat daripada api? Allah menjawab: Ya, air lebih kuat. Mereka bertanya lagi: Ya Allah apa ada yang lebih kuat dan keras daripada air? Allah menjawab: Ya, ada angin lebih kuat. Mereka bertanya lagi apakah ada yang lebih kuat daripada angin? Allah menjawab: Ya, ada, anak Adam yang bersadaqah dengan tangan kanannya secara bersembunyi lebih kuat daripadanya.
Untuk bersadaqah harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُؤْهَا الْفُقَرَٓاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ .
Pertama:
”Apabila kamu sekalian berdiam-diam secara rahasia memberikan shadaqah kepada kaum fakir miskin adalah lebih baik bagi kamu. Bahwa shadaqah kepada kaum fakir miskin adalah lebih baik bagi kamu.”
Dengan dalih ini maka orang-orang Islam dulu berhasil dalam usaha merahasiakan shadaqah mereka dari penglihatan orang lain, sehingga orang dulu lebih suka memberi orang fakir yang buta semata-mata agar tidak melihat siapa yang memberi dan adakalanya diikatkan ke baju orang fakir yang sedang tidur dan sebagian ada yang dengan cara menaruh di jalanan yang akan dilewati oleh si fakir supaya diambilnya.
Kedua:
Ialah menghindari dari rasa menyakiti dan memberi kesan yang kurang enak bagi yang menerima.
Sebagai firman Allah:
يٰٓااَيُّهَاالَّذِيْنَ آَمَنُوْا لَاتُبْطِلُوْا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰى كَالَّذِىْ يُنْفِقُ مَالَهُ رِثَاءَالنَّاسِ .
”Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu sekalian menyia-nyiakan sadhaqahmu dengan caci maki yang menyakiti hati, seperti orang-orang yang membelanjakan hartanya karena ingin dilihat oleh orang.”
Ketiga:
Hendaknya harta yang dikeluarkan adalah harta yang paling baik.
Seperti firman Allah:
لَنْ تَنَلُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّوْنَ .
”Kamu tidak akan memperoleh kebaikan sebelum kamu menafkahkan apa-apa yang sukai.”
Oleh sebab itu Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللّٰهَ طَيِّبٌ لَا يَقْيَلُ إِلَّا الطَّيَّبَ .
”Sesungguhnya Allah itu baik sehingga Ia tidak menerima sesuatu kecuali yang baik dan halal.”
Sebagaimana dikatakan oleh Sufyan As Saury : Barang siapa menafkahkan sesuatu yang haram dalam rangka ta'at kepada Allah adalah seperti orang yang membersihkan pakaiannya dengan air seni, pakaian tidak akan dapat dibersihkan kecuali dengan sesuatu yang halal.
Keempat:
Dalam pemberian harta shadaqah hendaknya dengan diikuti wajah yang berseri-seri menyenangkan tidak muram.
Sebagai firman Allah:
اَلَّذِيْنَ يُنْفِوْنَ أَمْوَالَهُمْ فِى سٕبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ لَايَتْبَعُوْنَ مَآ اَنْفَقُوْا مَنًّاوَّلَٓا اَدْىً لَهُمْ اَجْرَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَاخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَاهُمْ يَحْزَنُوْنَ .
”Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dinafkahkan itu dengan menyebut-nyebutkan pemberiannya, dan tidak pula menyakiti hati kepada si penerima, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”.
Rasulullah bersabda:
سَبَقَ دِرْهَمٌ مَاـَٔتـِ أَلْفِ دِرهَمٍ .
”Satu dirham mendahului seratus ribu dirham”.
Maksudnya: bahwa menafkahkan harta sedirham dari harta halal dengan disertai wajah yang berseri-seri lebih baik dan lebih berpahala daripada menafkahkan seratus ribu dirham yang diikuti dengan suatu perasaan terpaksa dan menggerutu.
Kelima:
Hendaknya dalam memberikan suatu pemberian supaya dipilih tempat dan sasaran yang tepat atau orang yang patut untuk menerima shadaqah, seperti orang-orang alim dan ta'at terhadap Allah, atau dapat menolong si miskin.
Sebagaimana firman Allah:
اِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَآَءِ والْمَسَاكِيْنِ .
”Shadaqah itu hanya untuk para fakir miskin”.
Rasulullah bersabda: ”Barang atau harta shadaqah apabila sudah lepas dari tangan pemiliknya ia berkata dengan empat kalimat:
- Saya kecil engkau besarkan.
- Dulu engkau menjaga saya sekarang aku menjagamu.
- Aku dulu musuh sekarang engkau mencintai.
- Dulu aku benda yang rusak (fana) sekarang engkau telah mengabadikan aku”.
Allah berfirman: – مَنْ جَآءَ بِالحَسَـنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْشَالِهَا (Barangsiapa berbuat kebaikan maka dia mendapat pahala sepuluh kalinya).
Seorang Muslim yang memberi makan kepada saudaranya sampai kenyang dan nemberi minum sampai hilang rasa hausnya tidak mendapatkan apa-apa kecuali dijauhkan dari api neraka dan dibikinkan untuknya tujuh selokan lebar antara dua parit sepanjang perjalanan lima ratus tahun dan neraka pun berseru: Hai Allah izinkanlah saya untuk sujud sebagai rasa syukur kepadamu karena Engkau telah membebaskan seorang dari umat Muhammad dari siksaanMu, karena saya malu dengan Muhammad di mana aku menyiksa umatnya yang telah memberikan shadaqah, maka aku harus ta'at kepada Engkau. Kemudian Allah memerintahkan untuk dimasukkan orang yang shadaqah dengan sepotong roti atau segenggam tamar, ke dalam surga.
Rasulullah Saw bersabda:
قَلَ النَّبِىُّ عَلَيْ الصَّلَاةُ وَسَّلَامُ : أَضَلُ الْأَعْمَالِ، عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ ثَلَاثَتٌ : طَلَبُ الْعِلْمِ وَالْجِهَادُ وَالْكَسَبُ مِنَ الْحَلَالِ، فَطَالِبُ الْعِلْمِ حَبِيْبُ اللّٰهِ تَعَالٰى وَالْمُجَاهِدُ وَلِىُّ اللّٰهِ وَالْكَاسِبُ مِنَ الْحَلَالِ كَرِيْمٌ عَلَى اللّٰهِ .
Nabi Saw. bersabda: ”Pekerjaan yang paling mulia di atas bumi ini ada tiga: mencari ilmu dan berjuang mencari rejeki yang halal, maka penuntut ilmu adalah kekasih Allah dan pejuang adalah wakil Allah dan pengusaha dengan cara yang halal adalah mulia dan terhormat di sisi Allah.”
Nabi bersabda: ”Takutlah kamu sekalian dari api Neraka, – اِتَّقُوا النَّارَ –Makdsudnya buatlah suatu penjaga antara kamu dan api Neraka yaitu dengan shadaqah dan derma.
”Walaupun hanya satu keping tamar.” –وَلَو بِشِقِّ تَمرَةٍ .–
”Walaupun hanya satu keping tamar.” –وَلَو بِشِقِّ تَمرَةٍ .–
Kesimpulan:
Infak di jalan Allah merupakan sarana untuk mendapatkan pahala dan kesuksesan yang besar di dunia dan akhirat.
”Shadaqah itu dapat mencegah tujuh puluh macam bahaya, dan bahaya yang paling ringan adalah lepra dan sopak.” (oleh Khatib dari Anas ra).
”Shadaqah itu dapat mencegah tujuh puluh macam bahaya, dan bahaya yang paling ringan adalah lepra dan sopak.” (oleh Khatib dari Anas ra).
Semoga memberi Hikmah dan Manfaat.
Sumber: Butir-butir Mutiara Hikmat.
Alih Bahasa: Drs. Rasihin Abd. Gani.
Alih Bahasa: Drs. Rasihin Abd. Gani.