”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
وَاَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيْهِمُ الْعَذَابُ فَيَـقُوْلُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رَبَّنَاۤ اَخِّرْنَاۤ اِلٰۤى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۙ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَـتَّبِعِ الرُّسُلَ ۗ اَوَلَمْ تَكُوْنُوْۤااَقْسَمْتُمْ مِّنْ قَبْلُ مَالَـكُمْ مِّنْ زَوَالٍ .وَّسَكَنْتُمْ فِيْ مَسٰكِنِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَـكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَـكُمُ الْاَمْثَالَ.
"Dan berikanlah peringatan (Muhammad) kepada manusia pada hari (ketika) azab datang kepada mereka, maka orang yang zalim berkata, Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan (kembali ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan), Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?". "Dan kamu telah tinggal di tempat orang yang menzalimi diri sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan."
(QS. Ibrahim: Ayat 44 - 45)
Dan Abu Hurairah berkata: ”bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ”Pada hari kiamat orang-orang akan dikumpulkan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama berjalan kaki, kelompok kedua naik kendaraan, kelompok ketiga berjalan dengan kepala sebagai kakinya. Rasulullah ditanya bagaimana seorang dapat berjalan dengan kaki di atas kepala di bawah. Rasulullah menjawab: ”Allah berkuasa untuk menjalankan mereka dengan kaki mereka, maka Allah pun kuasa pula untuk menjalankan dengan muka mereka di bawah. Dan mereka pun dapat berjalan dengan cepat, walaupun memanjat pada tempat yang berduri..”
Diriwayatkan oleh Tirmidzi bahwa mereka yang berjalan kaki adalah orang mukmin yang berdosa, sedang mereka yang mengendarai kendaraan adalah para sahabat dan orang-orang yang betul-betul taqwa, tidak takut dan tidak bersedih. Adapun orang-orang yang berjalan di atas kepalanya adalah kaum kafir.
Para ulama bersepakat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. :
يُحْشَرُالنَّاسُ عَلَى ثَلَاثِ طَرَاءِقَ رَاغِبِيْنَ رَاهِبِِنَ وَاثْنَانِ عَلٰى بَعِيْرٍ وَثَلَاثَتٌ عَلَى بَعِيْرٍ وَاَرْبَعَةٌ عَلَى بَعِيْرٍ وَعَشْرَةٌ عَلَى بَعِيْرٍ .
Pengumpulan manusia pada hari Kiamat besok, dengan melalui tiga jalan:
- Raaghibina (orang yang mencampur yang hak dan yang bathil).
- Roohibina (mereka yang meninggalkan subhat).
- Dan dua orang berkendaraan satu onta, tiga orang satu onta, empat orang satu onta dan sepuluh orang berkendaraan satu onta.
Bilangan dan pengelompokan tersebut hanyalah merupakan keterangan perbedaan tingkatan martabat mereka, dalam bahasa Arab disebut kinayah, di mana orang yang lebih tinggi tingkatannya, maka cepatlah perjalanan mereka.
Dalam sebuah hadits diterangkan:
Akhir dari itu semua adalah keluarnya api dari Aden untuk menggiring mereka.
Adapun mengenai orang yang dzolim, maka Rasulullah telah menerangkan lewat hadits Qudsi yang berbunyi:
”Hai para hamba_Ku sungguh Aku melarang penganiayaan terhadap diriKu sendiri ataupun terhadap hamba-hamba_Ku, maka janganlah kami sekalian berbuat aniaya.”
Maksud daripada hadits ini adalah: ”Sungguh Aku (Allah) Maha Suci dan Maha Tinggi, jauh dari perbuatan aniaya.
Dari Jabir r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
إِتَّقُوْا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَّقُوا السُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَاَنَّ قَبْلَكُم حَمَلَهُمْ أَنْ سَفَكُوْا دِمَاءَهُمْ وَاجَلَّوْا مَحَارِ مَهُمْ.
”Jauhilah perbuatan dzolim karena perbuatan dzolim adalah merupakan penganiayaan pada hari Kiamat, dan jauhilah kebakhilan, kekikiran, karena timbulnya pertumpahan darah dan penghalalan barang-barang yang haram pada umat sebelum kamu adalah akibat daripada sifat kikir.”
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw. bersabda:
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضٍ اَوْمِنْ شَىْءٍآخَرَ فَلْيَسْبَتْلِلهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ يَكُوْنَ لَا دِيْنَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ . إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ اْلمَظْلَمَةِ وَإِنْ لَمٔ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّـَٔاتِ صَاحِبِهِ وَحُمِلَتْ عَلَيْهِ .
”Barang siapa mempunyai suatu dosa terhadap temannya berupa kehormatan atau lainnya, maka hendaknya cepat diselesaikan hari ini juga sebelum datang hari di mana tidak ada dinar ataupun dirham. Karena pada waktu itu bila seorang mempunyai pahala dari amal shaleh akan dikurangi untuk temannya sesuai dengan dosa yang diperbuat daripadanya dan bila ia tidak mempunyai pahala apa-apa maka dosa dari temannya akan dibebankan kepadanya.”
Ahli fiqh mengatakan bahwa: ”Dosa yang paling besar adalah perbuatan dzolim terhadap Allah. Kedzaliman yang engkau perbuat sesama manusia akan dapat di ampuni bila orang yang telah engkau aniaya memaafkan. Maka seharusnya orang yang telah berbuat dzolim hendaknya minta ampun padaNya dan bila tidak ada kesempatan untuk minta maaf, maka beristighfarlah kepada Allah setiap akhir sholat.
Ahli makrifat berkata: ”Penganiayaan ada tiga macam: Penganiayaan/dosa yang dapat diampuni oleh Allah. Dan dosa yang tidak dapat diampuni oleh Allah. Dan dosa yang hanya Allah lah sebagai pemutus pada hari kelak. Dosa yang diampuni oleh Allah ialah dosa yang terjadi antara manusia dan Tuhannya, seperti meninggalkan sholat, puasa, zakat, hajji, dosa yang tidak dapat diampuni oleh Allah adalah dosa syirik sebagaimana firman Allah Ta'ala pada surat An-Nisa':
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.
(QS. An-Nisa': Ayat 48)
Dari ayat ini ada dua kemungkinan bagi orang-orang yang berbuat dosa besar, bila tidak sempat bertobat:
- Mungkin ia dapat diampuni oleh Allah.
- Mungkin ia akan disiksanya, walaupun pada akhirnya ia masuk surga.
Dan dosa yang diadili oleh Allah adalah dosa antara manusia dengan manusia seperti pelanggaran hak-hak sesama manusia.
NASIHAT YANG BAIK.
Dihikayatkan bahwa 'Aad sebagaimana diceritakan dalam Al Qur'an mempunyai dua orang anak ”Sadad” dan ”Sadid” namanya. Kedua menjadi raja yang sangat diktator, setelah Sadid meninggal maka Sadadlah sebagai penguasa tunggal di dunia. Pada suatu ketika ia membaca Kitab Qur'an dan menjumpai tentang sifat dan keagungan surga yang diciptakan Allah. Maka ia segera berkeinginan membuat surga di dunia seperti yang diterangkan oleh Al Qur'an, kemudian semua raja dan pembantunya dikumpulkan untuk bermusyawarah tentang keinginannya.
Para raja-raja dan pembantu-pembantunya berkata: ”Isi dunia adalah milikmu dan dalam kekuasaanmu.” Kemudian mereka disuruh mengumpulkan persiapan dari emas, perak, sampai pada hal-hal yang kecil, dan setiap raja membawahi serta mengawasi seribu orang.
Setelah mereka berkeliling selama dua puluh tahun, baru menemukan tanah yang cocok di mana terdapat pohon-pohonan, sungai-sungai, kemudian mereka mulai membangun surga tiruan yang terdiri dari emas, perak, permata sebagai bahannya, kesemuanya adalah milik rakyat yang diminta dengan paksa, hingga ada dua dirham emas milik anak yatim. Selesai pembangunan surga ini maka raja Sadad dan beberapa pembantunya datang meninjau tanpa berfikir dari mana bahan-bahan tersebut asalnya.
Karena kekejaman raja Sadad maka banyak rakyat yang menderita dan berdo'a: ”Ya Tuhanku, Engkau mengetahui apa yang diperbuat oleh raja dzolim ini terhadap rakyat-rakyat dan hamba-hamba sahayanya, bebaskanlah kami dari kekejaman, ya Allah penolong orang-orang yang minta tolong.” Doa itu segera dikabulkan oleh Allah dan dikirimkanlah Jibril dengan sekali teriakan. Maka raja dan semua penghuni kerajaan hancur binasa.
Ketahuilah dan perhatikan apa yang kami katakan, dan hati-hatilah dalam mengunjungi para penguasa. Karena pergaulan dengan orang penguasa yang tanpa maksud-maksud tertentu adalah merupakan perbuatan maksiat. Maka jadilah orang yang selalu rendah hati, dan menghormati kepada orang lain. Allah telah berfirman dalam hal ini:
فَاَعْرِضْ عَمَّنْ تَوَلّٰى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ اِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا.
Dan berpalinglah daripada orang-orang yang tidak mengindahkan peringatan Kami dan tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia.”
Jadi berkunjung dan datang kepada mereka berarti memperbanyak pengikutnya serta berarti pula menolong dalam kedzoliman. Apalagi bila maksudnya adalah untuk tujuan mendapatkan harta kekayaan, maka itu adalah merupakan perjalanan ke tempat haram.
Rasulullah bersabda:
مَنْ تَوَا صَعَ لِغَنِىٌّ لِغِنَاهُ ذَهَبَ ثُلُثَادِنِيَهِ.
”Barang siapa merasa rendah diri kepada orang kaya karena kekayaannya, maka hilanglah duapertiga agamanya.”
Ini mengenai sikap terhadap orang kaya yang saleh, apalagi terhadap orang kaya yang dzolim.
Sabda Rasulullah tersebut adalah karena manusia itu dinilai dari hatinya, lidahnya dan jiwanya, maka jika ia berendah diri untuk orang kaya dengan jiwanya dan lidahnya, hilanglah duapertiga agamanya, dan bila di samping itu ia juga memuja dengan hatinya hilanglah seluruh agamanya.
Sabda Rasulullah tersebut adalah karena manusia itu dinilai dari hatinya, lidahnya dan jiwanya, maka jika ia berendah diri untuk orang kaya dengan jiwanya dan lidahnya, hilanglah duapertiga agamanya, dan bila di samping itu ia juga memuja dengan hatinya hilanglah seluruh agamanya.
Kesimpulannya, bahwa gerak dan diammu tergantung kepada dirimu sendiri. Dan sesungguhnya bila engkau tidak dapat mengekang dirimu, maka engkau akan mendapat siksa Allah. Dan bila engkau dapat menjaga anggota badanmu, pahala pun akan mengalir kembali kepadamu, karena sesungguhnya Allah tidak memerlukan kamu dan pekerjaanmu, dan bahwa usaha seseorang akan merupakan tabungan bagi dirinya sendiri.
Jangan engkau selalu berkata: ”Bahwa sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Pengasih, mengampuni dosa-dosa, karena kata-kata itu adalah haq, maka janganlah digunakan pada hal-hal yang batal. Dan yang berkata demikian adalah bodoh, seperti sabda Rasulullah:
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَابَعْدَالْمَوْتِ وَالْاَحْمَقُ مَنِ اتَّبَعَ
نَفْسَهُ هَوَا هَاوَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ الْأَمَانِىْ .
”Orang-orang yang bijak adalah mereka yang mendekatkan dirinya dan berbuat untuk sesuatu yang berguna setelah mati. Orang yang bodoh adalah mereka yang selalu mengikuti nafsunya dan mengharapkan bermacam-macam kepada Allah tanpa diikuti oleh usaha.”
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat, ‘Kapankah terjadinya?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Al-A’raaf: 187]
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” – Shahih Muslim nomor 1893.
Sumber: Buku butir-butir MUTIARA HIKMAT.
Alih bahasa: Drs. Rosihin Abd. Gani.
Alih bahasa: Drs. Rosihin Abd. Gani.