
Tujuan hidup dalam agama monoteisme bukan lagi mencari keselamatan hidup material saja, tetapi juga keselamatan hidup kedua atau hidup spiritual. Dalam istilah agama disebut keselamatan dunia dan keselamatan akhirat. Dan jalan mencari keselamatan itu bukan lagi dengan memperoleh sebanyak mungkin mana, sebagai halnya dalam masyarakat dinamisme, dan tidak pula dengan membujuk dan menyogok roh-roh dan dewa-dewa, sebagaimana halnya dalam masyarakat animisme dan politeisme. Dalam monoteisme kekuatan gaib atau supernaturil itu dipandang sebagai suatu Dzat yang berkuasa mutlak dan bukan lagi sebagai suatu Dzat yang menguasai sesuatu fenomena natur seperti halnya dalam faham animisme dan politeisme. Oleh karena itu Tuhan dalam monoteisme tidak dapat dibujuk-bujuk dengan sajian-sajian. Kepada Tuhan sebagai pencipta yang mutlak orang tak bisa kecuali menyerahkan diri, menyerahkan diri kepada kehendak_Nya. Dan sebenarnya inilah arti kata Islam yang menjadi nama agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Islam ialah menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Dengan menyerahkan diri ini, yaitu dengan patuh kepada perintah dan larangan-larangan Tuhanlah, orang dalam monoteisme mencoba mencari keselamatan.
Disinilah letaknya perbedaan besar antara agama-agama primitif dan agama monoteisme. Dalam agama-agama primitif manusia mencoba menyogok dan membujuk kekuasaan supernaturil dengan penyembahan dan sajian-sajian supaya mengikuti kemauan manusia, sedang dalam agama monoteisme manusia sebaliknya tunduk kepada kemauan Tuhan.
Tuhan dalam faham monoteisme adalah Maha Suci dan Tuhan menghendaki supaya manusia tetap suci. Manusia akan kembali kepada Tuhan, dan yang dapat kembali ke sisi Tuhan Yang Maha Suci hanyalah orang-orang yang suci. Orang-orang yang kotor tidak akan diterima kembali ke sisi Yang Maha Suci. Orang-orang serupa ini akan berada di neraka, jauh dari Tuhan. Orang-orang yang suci akan berada dekat Tuhan dalam surga.
Jalan untuk tetap menjadi suci ialah senantiasa berusaha supaya dekat pada Tuhan, ingat dan tidak lupa pada Tuhan. Dengan senantiasa dekat dan teringat pada Tuhan, manusia tidak akan mudah dapat terpedaya oleh kesenangan materi yang akan membawa kepada kejahatan. Dengan senantiasa dekat dan teringat pada Tuhan, manusia akan teringat bahwa kesenangan sebenarnya bukanlah kesenangan sementara di dunia ini, tetapi kesenangan abadi di akhirat. Dengan jalan manusia diharapkan senantiasa akan berusaha supaya tetap mempunyai jiwa bersih dan suci dan berusaha untuk menjauhi perbuatan-perbuatan tidak baik dan jahat.
Dan jalan untuk tetap berada dekat Tuhan ditentukan oleh tiap-tiap agama. Dalam Kristen, terhubung dengan ajarannya tentang dosa warisan yang yang melekat pada diri manusia, seseorang tidak akan dapat menjadi suci selama ia tidak menerima Jesus Kristus sebagai juru selamat yang mengorbankan diri diatas salib untuk menebus dosa manusia. Hanya setelah mengakui inilah baru seseorang dapat menuju kepada pembersihan diri yang sebenarnya, dan akhirnya menjadi orang baik dan suci. Untuk itu seseorang harus berusaha mengadakan kontak spirituil dengan Jesus Kristus. Dengan ini roh manusia akan mendapat limpahan dari roh Jesus Kristus yang dalam ajaran agama Kristen, penuh dengan rahmat, kebaikan dan kasih sayang. Jalan untuk memupuk dan memelihara kontak itu ialah dengan berdoa, membaca Al Kitab, pergi ke Gereja, merayakan hari-hari suci dan lain-lain yang merupakan jalan untuk senantiasa berada dekat dan teringat pada Tuhan.
Agama Hindu atau Hindu Dharma dengan ajarannya tentang Tuhan Yang Maha Esa memandang bahwa roh roh manusia adalah percikan dari Sang Hyang Widhi. Persatuan roh dengan badan menimbulkan kegelapan. Badan akan hancur tetapi roh atau atma akan kekal. Kebahagiaan manusia ialah bersatu dengan Sang Hyang Widhi yang disebut moksa akan tercapai hanya kalau atma telah menjadi suci kembali dari kegelapan yang timbul dari persatuannya dengan badan. Cara mengadakan hubungan dengan Tuhan untuk mencapai kesucian jiwa ialah sembahyang di pura atau di rumah, merayakan hari-hari suci dan sebagainya.
Islam juga mengajarkan bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Orang yang rohnya bersih lagi suci dan tidak berbuat jahat di hidup dunia akan masuk surga, dekat dengan Tuhan. Orang yang rohnya kotor dan berbuat jahat di hidup pertama akan masuk neraka, jauh dari Tuhan. Agar dalam hidup kekal di akhirat nanti orang hidup dalam kesenangan, jauh dari kesengsaraan, orang haruslah berusaha supaya mempunyai roh bersih lagi suci dan senantiasa berbuat baik dan menjauhi perbuatan-perbuatan jahat di dunia.
Jalan untuk membersihkan dan mensucikan roh ialah ibadat yang diajarkan Islam, yaitu, salat, puasa, zakat dan haji. Tujuan dari ibadat selain dari membersihkan dan mensucikan diri, ialah juga untuk menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan jahat.
Jelaslah kiranya bahwa tujuan hidup beragama dalam agama monoteisme ialah membersihkan diri dan mensucikan jiwa dan roh. Tujuan agama memanglah membina manusia baik-baik, manusia yang jauh dari kejahatan. Oleh sebab itu agama monoteisme erat pula hubungannya dengan pendidikan moral. Agama-agama monoteisme mempunyai ajaran-ajaran tentang norma-norma akhlak tinggi. Kebersihan jiwa, tidak mementingkan diri sendiri, cinta kebenaran, suka membantu manusia, kebesaran jiwa, suka damai, rendah hati dan sebagainya adalah norma-norma yang diajarkan agama-agama besar. Agama tanpa ajaran moral tidak akan berarti dan tidak akan dapat merobah kehidupan manusia. Tidak mengherankan kalau agama selalu di identifikasi dengan moralitas.
Karena agama mempunyai sifat mengikat pada para pemeluknya, maka ajaran-ajaran moral agama lebih besar dan dalam pengaruhnya dari ajaran-ajaran moral yang dihasilkan falsafat dan pemikiran manusia. Ajaran-ajaran yang berasal dari Tuhan Pencipta Alam Semesta mempunyai sifat kekudusan dan absolut yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Perintah manusia masih dapat dilawan tetapi perintah Tuhan tak dapat ditentang. Faham inilah yang membuat norma-norma akhlak yang diajarkan agama mempunyai pengaruh besar dalam membina manusia yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur.
Tegasnya tujuan hidup beragama dalam agama monoteisme atau agama tauhid ialah menyerahkan diri seluruhnya kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta dengan patuh pada perintah dan larangan-nya, agar dengan demikian manusia mempunyai roh dan jiwa bersih dan budi pekerti luhur. Manusia serupa inilah yang akan memperoleh hidup senang sekarang di dunia dan kebahagiaan abadi kelak di hidup akhirat. Orang yang tidak patuh pada Tuhan, dan dengan demikian mempunyai roh yang tidak bersih dan akhlak yang tidak baik di dunia akan mengalami hidup sengsara di akhirat.
Dengan kata lain agama monoteisme atau agama tauhid dengan ajaran-ajarannya bermaksud untuk membina manusia yang berjiwa bersih dan berbudi pekerti luhur. Di sinilah terletak salah satu arti penting dari agama monoteisme bagi hidup kemasyarakatan manusia. Dari individu-individu yang berjiwa bersih dan berbudi pekerti luhurlah masyarakat manusia baik dapat dibina.
Agama-agama yang dimasukkan ke dalam kelompok agama monoteisme, sebagai disebut dalam ilmu perbandingan agama, adalah Islam, Yahudi, Kristen dengan kedua golongan Protestan dan Katholik yang terdapat di dalamnya, dan Hindu agama tersebut pertama merupakan satu rumpun. Agama Hindu tidak termasuk dalam rumpun ini.
Di antara ketiga agama serumpun ini yang pertama datang ialah agama Yahudi dengan Nabi-nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yusuf dan lain-lain, kemudian agama Kristen dengan Nabi Isa yang datang untuk mengadakan reformasi dalam agama Yahudi. Dan terakhir sekali datang agama Islam dengan Nabi Muhammad Saw. Ajaran yang beliau bawa ialah ajaran yang diberikan kepada Nabi-nabi Ibrahim Musa, Isa dan lain-lain dalam bentuk murninya.
Sebagai diterangkan oleh Al Qur'an, ajaran murni itu ialah Islam, menyerahkan diri seluruhnya kepada kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Mengenai hal ini Surat Ali Imran ayat 19 mengatakan :
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَاللّٰهِ الْاِسْلَامُ وَمَااخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اَوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْ بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ اْلعِلْمُ بَغْيًـابَنَهُمْ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ اْلحِسَابِ .
Sesungguhnya agama di sisi Allah (hanyalah) Islam. Tiada berselisih orang-orang yang diberi Kitab kecuali sesudah datang ilmu (keterangan) kepada mereka disebabkan kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar akan ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
Apa yang dimaksud dengan Islam dijelaskan oleh Surat An-Nisa' ayat 125.
وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنَامّمَّ اَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَاِبْرَا هِيْمَ حَنِيْفًـا .
Siapa mempunyai agama yang lebih baik dari orang yang menyerahkan diri seluruhnya kepada Tuhan dan berbuat baik serta mengikuti agama Ibrahim, (agama) yang sebenarnya?.
Bahwa Nabi Ibrahim menyerahkan diri kepada Tuhan dan beragama Islam disebut Surat al Baqarah ayat 131.
اِذْ قَلَ لَهُ رَبُّهُٓ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ .
Ketika Tuhannya berkata kepadanya (Ibrahim): ”Serahkan dirimu”, ia menjawab: ”Aku menyerahkan diriku kepada Tuhan semesta alam”.
Dan Surat Ali Imran ayat 67.
مَاكَانَ اِبْرَاهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًا وَمَاكَانَ مِنَالْمُثْرِكِيْنَ .
Bukanlah Ibrahim seorang Yahudi, bukan pula seorang Kristen, tetapi adalah seorang yang benar (dalam keyakinannya), seorang muslim. Dan bukanlah ia masuk dalam golongan kaum politeis.
Ayat 84 dari Surat Ali Imran lebih lanjut mengatakan bahwa bukan hanya agama yang didatangkan kepada Nabi Ibrahim, tetapi juga agama yang didatangkan kepada Nabi-nabi lain adalah sama dengan agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad:
قُلْ اٰمَنَّـآبِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ عَليْنَا وَمَآ اُنزِلَ عَلـٰٓى اِبْرَا هِـيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّنَ مِنْ رِّبِّهِمْ لَانُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ .
Katakanlah : ”Kami percaya kepada apa yang diturunkan kepada kami, kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail serta suku-suku bangsa lain dari kepada apa yang diturunkan kepada Musa, Isa serta Nabi-nabi lain dari Tuhan mereka, kami tidak mengadakan perbedaan antara mereka dan kami menyerahkan diri kepada_Nya.
Dari ayat-ayat di atas jelaslah kelihatan bahwa agama-agama Yahudi, Kristen dan Islam adalah satu asal. Sejarah juga mengunjukkan bahwa ketiga agama itu memang mempunyai asal yang satu. Tetapi perkembangan masing-masing dalam sejarah mengambil jurusan yang berlainan, sehingga timbul perbedaan antara ketiga-tiganya.
Pada mulanya, Yahudi, Kristen dan Islam berdasar atas keyakinan tauhid atau keesaan Tuhan yang serupa. Dalam modern keyakinan itu disebut monoteisme. Tetapi dalam pada itu kemurnian tauhid dipelihara hanya oleh Islam dan Yahudi. Dalam Islam satu dari kedua syahadatnya menegaskan : ”Tiada Tuhan selain dari Allah”. Dan dalam agama Yahudi Syema atau syahadatnya mengatakan: ”Dengarlah Israel, Tuhan kita satu”. Terapi kemurnian tauhid dalam agama Kristen dengan adanya faham Trinitas, sebagai diakui oleh ahli-ahli perbandingan agama, sudah tidak terpelihara lagi.
Agama Hindu, sungguhpun banyak dianggap termasuk dalam golongan agama politeisme, mengandung faham monoteisme. Trimurti yang terdiri dari Brahma, Wisynu dan syiwa mengandung faham tiga sifat atau aspek dari satu zat Yang Maha Tinggi. Brahma menggambarkan sifat pencipta, Wisynu sifat memelihara dan Syiwa sifat menghancurkan, tiga sifat atau aspek yang terdapat dalam kehidupan di dunia, kejadian, kelangsingan wujud, dan kehancuran. Benda-benda di dunia terjadi, berwujud untuk waktu tertentu dan kemudian hancur. Ini adalah perbuatan Zat itu.
Dengan demikian di antara agama besar yang ada sekarang Islam dan Yahudilah yang memelihara faham monoteisme yang murni. Monoteisme Kristen dengan faham Trinitasnya dan monoteisme Hindu dengan faham politeisme yang banyak terdapat di dalamnya tidak dapat dikatakan monoteisme murni.
Sumber: Buku Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya.