
Islam adalah agama dalam pengertian definisi nomor delapan tersebut di atas, yaitu agama yang ajaran-ajarannya diwahyukannya Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul. Islam pada hakekatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia. Sumber dari ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu ialah Al Qur'an dan hadits.
Dalam faham dan keyakinan umat Islam Al Qur'an mengandung sabda Tuhan (كلام اللّٰه) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Sebagai dijelaskan Al Qur'an, wahyu ada tiga macam Surat 42 (al Syura) ayat 51 dan 52 mengatakan :
وَمَاكَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْمِنْ وَّرَآىءِ حِجَابٍ اَوْيُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهِ مَا يَشَآءُ اِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ . وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَٓا اِلَيْكَ رُوْحًامِّنْ اَمْرِ نَا.
Tidak dapat terjadi bagi manusia bahwa Tuhan berbicara dengannya kecuali melalui wahyu, atau dari belakang tabir ataupun melalui utusan yang dikirim, maka disampaikanlah kepadanya dengan seizin Tuhan apa yang dikehendaki_Nya. Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Tinggi Maha Bijaksana. Demikianlah Kami kirimkan kepadamu roh atas perintah Kami.
Wahyu dalam bentuk pertama tersebut di atas kelihatannya adalah pengertian atau pengetahuan yang tiba-tiba dirasakan seseorang timbul dalam dirinya; timbul dengan tiba-tiba sebagai suatu cahaya yang menerangi jiwanya. Wahyu bentuk kedua, ialah pengalaman dan penglihatan di dalam keadaan tidur atau di dalam keadaan trance. Di dalam bahasa asingnya ini disebut ru'ya (dream) atau kasy (vision). Wahyu bentuk ketiga ialah yang diberikan melalui utusan, atau malaikat, yaitu Jibril dan wahyu serupa ini disampaikan dalam bentuk kata-kata.
Bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah wahyu dalam bentuk ketiga, dijelaskan juga dalam Al Qur'an Surat 26 (Al-Syu'ara 192-195 mengatakan :
وَاِنَّهُ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ {١٩٢} نَذَلَ بِهِ الرُّوْحُ اْلاَمِيْنُ {١٩٣} عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ اْلمُنْزِيْنَ {١٩٤} بِلِسَانِ عَرَبٌيٍّ مُّبٍيْنٍ {١٩٥}.
Sesungguhnya ini adalah wahyu Tuhan semesta alam. Dibawa turun oleh Roh setia ke dalam hatimu agar engkau dapat memberi ingat. Dalam bahasa Arab yang jelas.
Selanjutnya Surat 16 (An-Nahl) ayat 102 menyebutkan :
قُلْ نَزَّلَهُ رُوْحُ الْقُدُسِ مِنْ رَّبِّكَ بِلحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ {١٩٢}
Katakanlah: Roh Suci membawakannya turun dengan kebenaran dari Tuhanmu untuk meneguhkan (hati) orang yang percaya dan untuk menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri.
Bahwa yang dimaksud dengan roh setia dan roh suci adalah Jibril (Gabrial) dijelaskan oleh Surat 2 ( Al Baqarah) ayat 97 :
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيْلَ فَاِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلٰى قَلْبِكَ بِاِذْنِ اللّٰهِ مُصَدِّقًا لِّمَابَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ {٩٧}.
”Katakanlah : siapa yang menjadi musuh Jibril maka ialah sebenarnya yang membawanya turun ke dalam hatimu dengan seizin Tuhan untuk membenarkan apa yang (datang) sebelumnya dan untuk menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang percaya”.
Hadits-hadits juga menjelaskan bahwa wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad adalah melalui Jibril. Dalam hadits Aisyah mengenai wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi, dapat kita baca bagaimana ketatnya Jibril merangkul beliau, sehingga beliau merasa sakit dan kemudian disuruh mengulangi apa yang diturunkan Jibril yaitu:
اِقْرَاءْ بِاسْمِ رَّبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ، خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اِقْرَاءْ وَرَبُّك الْاَكْرَمُ .
”Bacalah (recite) dengan nama Tuhan Yang menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah. Baca dan Tuhanmu Maha Pemurah.”
Dalam hadits lain, sewaktu ditanya bagaimana caranya wahyu turun kepada beliau. Nabi Muhammad menerangkan: ”Wahyu itu terkadang turun sebagai suara lonceng dan inilah yang terberat bagiku. Kemudian ia (Jibril) pergi dari akupun sudah mengingat apa yang diturunkannya. Terkadang melaikat itu datang dalam bentuk manusia, berbicara kepadaku dan akupun mengingat apa yang dikatakannya”.
Atas dasar ayat-ayat dan hadits-hadits serupa inilah kita umat Islam mempunyai keyakinan bahwa apa yang terkandung dalam Al Qur'an adalah sabda Tuhan, dengan kata lain teks Arab yang tersebut dalam kitab suci itu adalah wahyu dari Tuhan. Hanya kata-kata Arab yang tersebut dalam teks itulah yang diakui sebagai wahyu, dan kalau diganti dengan kata-kata Arab lain sungguhpun sinonimnya, itu tidak diakui lagi wahyu. Apalagi terjemahannya ke dalam bahasa asing, semua itu bukan lagi merupakan wahyu, atau Al Qur'an yang sebenarnya.
Dalam hal ini, wahyu menurut faham Islam, berlainan dari wahyu menurut faham agama lain, umpamanya agama Kristen. Dalam agama ini, Injil dalam teksnya bukanlah wahyu, yang diwahyukan hanyalah isi atau arti yang dikandung teks itu. Maka terjemahannya dalam bahasa-bahasa asing dianggap sama kuat. Berdasarkan atas ini ada kaum Orientalis yang mengatakan Sabda Tuhan dalam Islam menjelma menjadi Al Qur'an, sedang dalam agama Kristen Sabda Tuhan menjelma menjadi Jesus.
Wahyu yang dalam bentuk kata-kata itu disampaikan kepada Nabi Muhammad, turun bukan sekali gus tetapi sepotong demi sepotong dalam masa kurang lebih 23 tahun. Yang dilakukan Nabi pada waktu itu ialah setiap wahyu turun, itu beliau sampaikan kepada sahabat-sahabat untuk dihafal dan dicatat.
Zaid Ibn Sabit adalah sekretaris utama yang mencatat dalam bentuk tulisan ayat-ayat yang diturunkan itu. Selain dari sekretaris ini disebut juga nama sahabat-sahabat lain yang disuruh mencatat, seperti Abu Bakar, Usman, Umar, Ali, Zubair Ibn Awam, Abdullah Ibnu Sa'ad dan Ubay Ibn Kaab. Ayat-ayat itu ditulis di atas batu, tulang, pelepah kurma dan lain-lain. Penghafal-penghafal profesionil, sebagai diakui oleh A. Guillaume merupakan bahagian dari anggota masyarakat, yaitu bahagian yang tak boleh tidak mesti ada dalam masyarakat Arab dahulu. Merekalah yang penghafal syair-syair Arab jahiliah dalam keseluruhannya dan merekalah yang menyebarkannya ke daerah-daerah dan yang meneruskannya dari generasi ke generasi. Penghafal-penghafal serupa ini besar perannya dalam sejarah pengumpulan ayat-ayat Al Qur'an dalam bentuk buku seperti yang dikenal sekarang.
Pengumpulan dan penulisan ayat-ayat itu dalam bentuk buku, terjadi setelah banyaknya sahabat-sahabat yang menghapal Al Qur'an gugur dalam peperangan yang timbul di zaman Abu Bakar, satu-dua tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad. Dengan gugurnya penghafal-penghafal Al Qur'an akan dapat turut hilang. Maka atas anjuran Umar, Abu Bakar memerintahkan Zaid Ibn Sabit dan sahabat-sahabat lain, untuk mengumpulkan ayat-ayat yang tertulis di atas batu, tulang-tulang, pelepah kurma dan yang dihafal oleh sahabat-sahabat itu dalam bentuk satu buku. Buku yang satu ini kemudian diperbanyak exemplarnya oleh Usman (644-655 M), dan dikirim ke daerah-daerah untuk menjadi pegangan tertulis bagi umat Islam yang ada di sana. Dari Usman inilah kopi-kopi selanjutnya ditulis dan dicetak.
Demikianlah, teks Al Qur'an adalah orisinil dari Nabi dan adalah wahyu yang beliau terima dari Tuhan melalui Jibril dalam bentuk kata-kata yang didengar dan dihafal, dan bukan dalam bentuk pengetahuan yang dirasakan dalam hati atau yang dialami dan dilihat dalam mimpi atau keadaan trance.
Hadits sebagai sumber kedua dari ajaran-ajaran Islam, mengandung sunnah (tradisi) Nabi Muhammad. Sunnah boleh mempunyai bentuk ucapan, perbuatan atau persetujuan secara diam dari Nabi.
Berlainan halnya dengan Al Qur'an, hadits tidak dikenal dicatat tidak dihafal di zaman Nabi. Alasan yang selalu dikemukakan ialah bahwa pencatatan dan penghapalan hadits dilarang Nabi, karena dikuatirkan bahwa dengan demikian akan terjadi percampur bauran antara Al Qur'an sebagai sabda Tuhan dan hadits sebagai ucapan-ucapan Nabi. Ada disebut bahwa Umar ibn Al Khattab. Khalifah kedua, berniat untuk membukukan hadits Nabi, tetapi karena takut akan terjadi kekacauan antara Al Qur'an dan hadits, niat itu tidak jadi dilaksanakan.
Pembukuan baru terjadi di permulaan abad kedua Hijriah, yaitu ketika Khalifah Umar abd Al-Aziz (717-720 M) meminta dari Abu Bakar Muhammad ibn Umar dan Muhammad ibn Syihab Al-Zuhri, mengumpulkan hadits Nabi yang dapat mereka peroleh. Di tahun 140 H, Malik Ibn Anas menyusun hadits Nabi dalam buku Al-Muwatta'.
Pembukuan secara besar-besaran di abad ketiga Hijriah oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Al-Nasa'i, Al-Tarmizi dan Ibnu Majah. Keenam buku kumpulan hadits inilah yang banyak dipakai sampai sekarang.
Karena hadits tidak dihafal dan tidak dicatat dari sejak semula, tidaklah dapat diketahui dengan pasti mana hadits yang betul-betul berasal dari Nabi dan mana hadits yang dibuat-buat. Abu Bakar dan Umar sendiri, walaupun mereka sezaman dengan Nabi, bahkan dua sahabat yang terdekat dengan
Nabi, tidak begitu saja menerima hadits yang disampaikan kepada mereka. Abu bakar meminta dibawah saksi yang memperkuat hadits itu berasal dari Nabi, dan Ali bin Abi Thalib meminta supaya pembawa hadits bersumpah atas kebenarannya.
Dalam pada itu jumlah hadits yang dikatakan berasal dari Nabi bertambah banyak, sehingga keadaannya bertambah sulit membedakan mana hadits yang orisinil dan mana hadits yang dibuat-buat. Diriwayatkan bahwa mengumpulkan 600.000 (enam ratus ribu) hadits, tetapi tetapi setelah mengadakan seleksi, yang dianggapnya hadits orisinil hanya 3.000 (tiga ribu) dari yang 600.000 itu, yaitu hanya setengah persen.
Tidak ada kesepakatan kita antara umat Islam keorisinilan semua hadits dari Nabi. Jadi berlainan dengan ayat-ayat Al Qur'an yang semuanya diakui oleh seluruh umat Islam adalah wahyu yang diterima Nabi dan kemudian beliau teruskan kepada umatnya, dalam keorisinilan hadits terdapat perbedaan antara umat Islam. Oleh karena itu kekuatan hadits sebagai sumber ajaran-ajaran Islam tidak sama dengan kekuatan Al Qur'an.
Sumber: Buku Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya.
Oleh : Prof. Dr. Harun Nasution.
Oleh : Prof. Dr. Harun Nasution.