ASPEK IBADAT, LATIHAN SPIRITUIL DAN AJARAN MORAL (BAGIAN PERTAMA)




بِـسْـــــــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْـمٰـنِ الرَّحـِــــــــــــــيْمِ

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Manusia dalam faham Islam, sebagai halnya dalam agama monoteisme lainnya, tersusun dari dua unsur, unsur jasmani dan unsur rohani. Tubuh manusia berasal dari materi dan mempunyai kebutuhan-kebutuhan materi, sedangkan roh manusia bersifat immateri dan mempunyai kebutuhan spirituil. Badan, karena mempunyai hawa nafsu, bisa membawa pada kejahatan, sedang roh, karena berasal dari unsur yang suci, mengajak kepada kesucian. Kalau seseorang hanya mementingkan hidup kematerian ia mudah sekali dibawa hanyut oleh kehidupan yang tidak bersih, bahkan dapat dibawa hanyut kepada kejahatan.

Oleh karena itu pendidikan jasmani manusia-manusia harus disempurnakan dengan pendidikan rohani. Pengembangan daya-daya jasmani seseorang tanpa dilengkapi dengan pengembangan daya rohani akan membuat hidupnya berat sebelah dan kehilangan keseimbangan. Orang yang demikian akan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidup duniawi, apalagi kalau hal itu membawa kepada perbuatan-perbuatan tidak baik dan kejahatan. Ia akan merupakan manusia yang merugikan, bahkan manusia yang membawa kerusakan bagi masyarakat. Selanjutnya ia akan kehilangan hidup bahagia di akhirat dan akan menghadapi hidup kesengsaraan di sana. Oleh karena itu amatlah penting supaya roh yang ada dalam diri manusia mendapat latihan, sebagaimana badan manusia juga mendapat latihan.

Dalam Islam ibadatlah yang memberikan latihan rohani yang diperlukan manusia itu. Semua ibadat yang ada dalam Islam, salat, puasa, haji dan zakat, bertujuan membuat roh manusia supaya senantiasa tidak lupa pada Tuhan, bahkan senantiasa dekat pada_Nya. Keadaan senantiasa dekat dengan Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Suci dapat mempertajam rasa kesucian seseorang. Rasa kesucian yang kuat akan dapat menjadi rem bagi hawa nafsu untuk melanggar nilai-nilai moral, peraturan dan hukum yang berlaku dalam memenuhi keinginannya.

Di antara ibadat Islam, salatlah yang membawa manusia terdekat kepada Tuhan. Di dalamnya terdapat dialog antara manusia dengan Tuhan dan dialog berlaku antara manusia dengan Tuhan dan dialog berlaku antara dua pihak yang saling berhadapan. Dalam salat manusia memang berhadapan dengan Tuhan. Dalam salat seseorang melakukan hal-hal berikut: memuja ke-Maha-Sucian Tuhan, menyerah diri kepada Tuhan, memohon supaya dilindungi dari godaan syetan, memohon diberi ampun dan dibersihkan dari dosa, memohon supaya diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan dijauhkan dari kesesatan dan perbuatan-perbuatan tidak baik, perbuatan-perbuatan jahat dan sebagainya. Pendek kata dalam dialog dengan Tuhan itu seseorang meminta supaya rohnya disucikan. Dialog ini wajib diadakan lima kali sehari, dan kalau seseorang lima kali sehari dengan sadar memohon pensucian roh, dan ia memang berusaha ke arah yang demikian, rohnya akan dapat menjadi bersih dan ia akan dijauhkan dari perbuatan-perbuatan tidak baik, apalagi dari perbuatan-perbuatan jahat.

Puasa juga merupakan pensucian roh. Di dalam puasa seseorang harus menahan hawa nafsu makan, minum, dan seks. Di samping itu ia juga harus menahan rasa amarah, keinginan mengatai orang, bertengkar dan perbuatan-perbuatan kurang baik lainnya. Latihan jasmani dan rohani di sini bersatu dalam usaha mensucikan roh manusia. Di bulan puasa dianjurkan pula supaya orang banyak bersolat dan membaca Al Qur'an, yaitu hal-hal yang membawa orang dekat kepada Tuhan. Latihan ini disempurnakan dengan pernyataan rasa kasih kepada anggota masyarakat yang lemah kedudukan ekonominya dengan mengeluarkan zakat fitrah bagi mereka.

Ibadat haji juga merupakan pensucian roh. Dalam mengerjakan haji di Mekkah, orang berkunjung ke Baitullah (rumah Tuhan dalam arti rumah peribadatan yang pertama didirikan atas perintah Tuhan di dunia ini). Sebagai dalam salat, orang di sini juga merasa dekat sekali dengan Tuhan. Bacaan-bacaan yang diucapkan sewaktu mengerjakan haji itu juga merupakan dialog antara manusia dengan Tuhan. Usaha pensucian roh di sini disertai oleh latihan jasmani dalam bentuk pakaian, makanan dan tempat tinggal sederhana. Selama mengerjakan haji perbuatan-perbuatan tidak baik harus dijauhi. Di dalam haji terdapat pula latihan rasa bersaudara antara semua manusia, tiada beda antara kaya dan miskin, raja dan rakyat biasa, antara besar dan kecil semua sederajat.

Zakat, sungguhpun itu mengambil bentuk mengeluarkan sebagian dari harta untuk menolong fakir miskin dan sebagainya juga merupakan pensucian roh. Di sini roh dilatih menjauhi kerakusan pada harta dan memupuk rasa bersaudara, rasa kasihan dan suka menolong anggota masyarakat yang berada dalam kekurangan.

Ibadat dalam Islam sebenarnya bukan bertujuan supaya Tuhan disembah dalam arti penyembahan yang terdapat dalam agama-agama primitif. Pengertian serupa ini adalah pengertian yang tidak tepat. Betul ayat 56 dari Surat Al-Zariat mengatakan:

وَمَا خَلَقْتُ الِْٖنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ .

”Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi pada_Ku”.

Dan ini diartikan bahwa manusia diciptakan semata-mata untuk beribadat kepada Tuhan yaitu mengerjakan salat, puasa, haji dan zakat. Soal ibadat memang amat penting artinya dalam ajaran Islam, tetapi mestikah kata ” ليعبدون” di sini berarti beribadat, mengabdi, memuja, apalagi menyembah? Sebenarnya Tuhan tidak berhajat untuk disembah atau dipuja manusia. Tuhan adalah Maha Sempurna dan tak berhajat kepada apapun. Oleh karena itu kata ”ليعبدون” di sini lebih tepat kalau diberi arti lain daripada arti beribadat, mengabdi, memuja, apalagi menyembah. Lebih tepat kelihatannya kalau kata itu diberi arti tunduk dan patuh dan kata ”عبد” memang mengandung arti tunduk dan patuh sehingga arti ayat itu menjadi ”Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk tunduk dan patuh kepada_Ku”.

Arti ini lebih sesuai dengan arti yang terkandung dalam kata muslim dan muttaqin, yaitu menyerah, tunduk dan menjaga diri dari hukuman Tuhan di hari kiamat dengan mematuhi perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhan. Dengan lain kata, manusia diciptakan Tuhan sebenarnya ialah untuk berbuat baik dan tidak untuk berbuat jahat, sungguhpun di dunia ada manusia yang memilih kejahatan.

Selanjutnya arti sembah dan sembahyang yang diberikan kepada ”عبد” dan ”صلى ” juga membawa kepada faham yang tidak tepat. Kata sembahyang dari suatu bahasa yang memakai falsafat lain dari falsafat Islam. Sembahyang mengandung arti menyembah kekuatan gaib dalam faham masyarakat animisme dan politeisme. Dalam falsafat masyarakat serupa ini kekuatan gaib yang demikian ditakuti dan mesti disembah dan diberi sesajen agar ia jangan murka dan jangan membawa bencana bagi alam.

Kata sembahyang yang mengandung arti demikian, ketika dibawa ke dalam konteks Islam, sebagai terjemahan bagi kata ”عبد” dan ”صلى”, menimbulkan perubahan dalam konsep Tuhan yang ada dalam Islam. Dalam Islam Tuhan bukanlah merupakan suatu Dzat yang ditakuti tetapi suatu Dzat yang dikasihi. Ini ternyata dari ucapan: ”بسم اللّه الرّحمن الرّحيم”, yang tiap hari berkali-kali dibaca umat Islam. Rahman dan Rahim berarti Pengasih lagi Penyayang, jelas bukan Tuhan yang ditakuti, tetapi Tuhan yang dikasihi manusia.

Tetapi kata sembahyang yang masuk ke dalam konteks Islam itu menghilangkan sifat pengasih Pengasih dan Penyayang itu dari kesadaran kita umat Islam. Inilah pula kelihatan salah satu sebabnya maka ”اتقوا اللّه ” dalam Al Qur'an di Indonesiakan menjadi ”takutilah Tuhan” sedang arti sebenarnya ialah ”pelihara dan jagalah dirimu dari hukum Tuhan di akhirat dan patuhlah kepada perintah dan larangan-Nya”.

Tujuan ibadat dalam Islam bukanlah menyembah, tetapi mendekatkan diri kepada Tuhan, agar dengan demikian roh manusia senantiasa diingatkan kepada hal-hal yang bersih lagi suci, sehingga akhirnya rasa kesucian seseorang menjadi kuat dan tajam. Roh yang suci membawa kepada budi pekerti baik dan luhur. Oleh karena itu, ibadat, di samping merupakan latihan spirituil, juga merupakan latihan moral.

Salat memang erat hubungannya dengan latihan moral. Ayat 45 Surat Al-'Ankabut menyatakan :

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِوَالْمُنْكَرِ .

Salat mencegah orang dari perbuatan jahat dan tidak baik.

Hadits Nabi lebih lanjut menjelaskan :  

Salat, yang tidak menjauhkan pelakunya dari kelakuan tidak senonoh dan perbuatan jahat, bukanlah salat

Yang mengandung arti bahwa salat yang tidak mencegah seseorang dari perbuatan jahat dan tidak baik bukanlah sebenarnya salat. Salat demikian tidak ada artinya dan membuat orang bertambah jauh dari Tuhan.

Dalam satu hadits qudsi disebut :

Salat yang Kuterima hanyalah salat yang membuat pelakunya merendah diri terhadap kebesaran_Ku, tidak bersikap sombong terhadap makhluk_Ku, tidak berkeras menentang perintah_Ku tetapi senantiasa ingat pada_Ku dan menaruh kasih sayang kepada orang miskin, orang yang terlantar dalam perjalanan, wanita yang kematian suami dan orang yang ditimpa kesusahan.

Yaitu Tuhan akan menerima salat orang yang merendah diri tidak sombong, tidak menentang malahan selalu ingat kepada Tuhan dan suka menolong orang-orang yang dalam kesusahan seperti fakir miskin, orang yang dalam perjalanan, janda dan orang yang kena bencana. Jadinya salah satu tujuan salat ialah menjauhkan manusia dari perbuatan-perbuatan jahat dan mendorongnya untuk berbuat hal-hal yang baik.

”Hai orang-orang yang beriman, berpuasa diwajibkan bagi kamu sebagai halnya dengan umat sebelum kamu. Semoga kamu menjadi manusia bertaqwa.

Bertakwa artinya menjauhi perbuatan-perbuatan jahat dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Hadits-hadits Nabi juga mengkaitkan puasa dengan perbuatan-perbuatan tidak baik. Salah satu hadits mengatakan:

”Orang yang tidak meninggalkan kata-kata bohong dan senantiasa berdusta tidak ada faedahnya ia menahan diri dari makan dan minum.

Jadi puasa yang tidak menjauhkan manusia dari ucapan dan perbuatan tidak baik tidak ada gunanya. Orang yang demikian tidak perlu menahan diri dari makan dan minum, karena puasanya tak berguna.  

Hadits lain lagi mengatakan:

”Puasa bukanlah menahan diri dari makan dan minum, tetapi puasa ialah menahan diri dari kata sia-sia dan kata-kata, jika kamu dicaci atau tidak dihargai katakanlah aku berpuasa”.



Sumber: Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.
Oleh : Prof. Dr. Harun Nasution.

TAWADLU'/RENDAH HATI. ”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. وَعِبَا دُ الرَّحْمٰنِ الَّذِ...