”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Selain dari Ajaran-ajaran akhlak, Al Qur'an bahkan mengandung ajaran-ajaran bagaimana seharusnya tingkah laku seseorang dalam hidup sehari-hari.
Ayat 27 dan 28 dari surat An-Nur:
{٢٧} يٰٓاَيُّهَاالَّـذِيْنَ اٰمَنُوْا لَاتَدْخُلُوْابُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِمُوْا عَلـٰٓى اَهْلِهَاذٰلِكُمْ خَيْرُلَكُمٔ تَذَكَّرُوْنَ. {٢٨} فَاِنْولَّمْ تَجِدُوْا فِيْهَآ اَحَدًا فَلَاتَدْ خُلُوْهَا حَتّٰى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَاِنْ قِيْلَ ل لَكّمُ ارْجِعُوْا فَارْجِعُوْا هُوَ اَزْكٰى لَكُمْ وَاللّٰهُ بِمَاتَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ .
(27). Hai orang-orang yang beriman, janganlah masuki rumah yang bukan rumahmu sehingga kamu minta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu supaya kamu memperoleh pengajaran. (28). Maka jika kamu tidak menemui seseorang pun di dalamnya, maka janganlah memasukinya sehingga diizinkan bagi kamu. Dan jika dikatakan kepada kamu, ”Kembalilah”, hendaklah kamu kembali, yang demikian itu lebih bersih bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Umpamanya mengajarkan agar seseorang jangan memasuki rumah orang lain sebelum meminta izin serta memberi salam dan kalau tidak diberi izin masuk supaya kembali saja, karena itu adalah lebih baik.
Ayat 58 dari Surat itu juga:
يٰٓاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِيْنَ مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ وَالَّذِيْنَ لَمْ يَبْلُغُوا الحُلُمَ مِنْكُمْ ثَـلٰثَ مَرّٰتٍ مِنْ قَبْلِ صَلٰوةِ اْلفَجْرِ وَحِيْنَ تَضَعُوْنَ ثِيَابَكُمْ مِّنَ الظَّهِيْرَةِ وَمِنْ بَعْـدِ صَلٰوةِ الْعِشَآءِ .
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah meminta izin kepada kamu hamba-hamba sahaya kamu dan anak-anak yang belum baligh di antara kamu, tiga (waktu), yaitu sebelum shalat subuh, waktu kamu menukar pakaian kamu tengah hari, dan sesudah shalat 'isya.
Selanjutnya mengajarkan agar sebelum memasuki ruang tertutup, orang harus meminta izin terlebih dahulu, dengan mengetuk pintu, umpamanya, tiga kali, walaupun bagi anak yang belum dewasa.
Demikianlah pentingnya budi pekerti luhur dan tingkah laku sehari-hari dalam Islam, sehingga hal-hal itu disebut Tuhan dalam Al Qur'an. Dan Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa beliau diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan Ajaran-ajaran tentang budi pekerti luhur. Beliau juga menerangkan: Tuhan telah menentukan Islam sebagai agamamu, maka hiasilah agama itu dengan budi pekerti baik dan hati pemurah.
Berkata benar dan tidak berdusta adalah norma moral yang penting. Nabi mengatakan: "Kata benar menimbulkan ketenteraman tetapi dusta menimbulkan kecemasan". Menurut Aisyah, sifat yang paling dibenci Nabi ialah berdusta. Seorang mukmin, kata Nabi, boleh bersifat penakut dan bakhil tetapi sekali-kali tak boleh berdusta. Tiga macam orang, kata Nabi, yang tak akan masuk surga, orang tua yang berzina, Imam yang berdusta, dan kepala yang bersifat angkuh. Mengenai kejujuran Nabi mengatakan: "Tidak terdapat iman dalam diri orang yang tidak jujur dan tidaklah beragama orang tak dapat dipegang janjinya". Dan seorang pernah bertanya kepada Nabi: "Kapan hari kiamat?" jawab beliau: "kalau kejujuran telah hilang". Janji harus ditepati walaupun kepada musuh. Nabi pernah mengucapkan kata-kata betikut: "jika seorang berjanji tidak akan membunuh seseorang lain, tetapi orang itu kemudian ia bunuh, maka aku suci dari perbuatannya, sungguhpun yang ia bunuh itu adalah orang kafir". Orang pernah bertanya kepada Nabi tentang semulia-mulia manusia. Nabi menerangkan: "Orang yang hatinya bersih lagi suci dan lidahnya benar". Juga Nabi mengatakan bahwa orang yang suka mencaci dan hatinya berisi rasa dengki akan masuk neraka. Selanjutnya orang yang kuat kata Nabi, bukanlah orang yang tak dapat dikalahkan kekuatan fisiknya, tetapi yang kuat ialah orang yang dapat menahan amarahnya. Hadits lain lagi menerangkan bahwa orang yang dapat amarahnya di hari kiamat akan dapat memilih bidadari yang disukainya. Lebih lanjut lagi Nabi mengatakan bahwa derajat yang tinggi diberikan Tuhan kepada orang yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang tak menghargainya, memaafkan orang yang tak mau memberi apa-apa kepadanya dan tetap bersahabat dengan orang yang memutuskan tali persaudaraan dengan dia. Hadits juga mengatakan bahwa orang yang paling tak disenangi Tuhan ialah orang yang berdendam kusumat.
Demikianlah hadits-hadits Nabi banyak menyebut norma-norma akhlak mulia dan Nabi sendiri dikenal sebagai orang yang budi pekertinya luhur. Al Qur'an mengatakan: "Sesungguhnya engkau berbudi pekerti luhur". Tegasnya, Islam sebagai halnya dengan agama-agama lain, amat mementingkan pendidikan sprituil dan moral. Di sinilah sebenarnya terletak inti sari sesuatu agama. Inti sari Ajaran-ajaran Islam memang berkisar sekitar baik dan buruk, yaitu perbuatan mana yang bersifat baik dan membawa kepada kebahagiaan dan perbuatan mana yang bersifat buruk atau jahat dan membawa kepada kemudaratan dan sengsara. Untuk kebahagiaan manusia, perbuatan baik dikerjakan dan perbuatan jahat dijauhi.
Dalam Islam masalah baik dan buruk ini mengambil tempat yang penting sekali. Bagi para teolog Islam soal itu memang merupakan salah satu masalah yang banyak dan hangat mereka perbincangkan. Pokok masalah bagi aliran-aliran teologi yang terdapat dalam Islam ialah: Dapatkah manusia melalui akalnya mengetahui perbuatan mana yang buruk? Ataukah untuk mengetahui itu, manusia perlu pada wahyu?
Golongan Asy'ariah mengatakan bahwa soal baik dan buruk tak dapat diketahui oleh akal. Sekiranya wahyu tidak diturunkan Tuhan, manusia tidak akan dapat memperbedakan perbuatan buruk dari perbuatan baik. Wahyulah yang menentukan buruk baiknya sesuatu perbuatan.
Kaum Mu'tazilah berpendapat bahwa akal manusia cukup kuat untuk mengetahui buruk baiknya sesuatu perbuatan. Tanpa wahyu manusia dapat mengetahui bahwa mencuri adalah perbuatan buruk dan menolong sesama manusia adalah perbuatan baik. Untuk itu tidak diperlukan wahyu. Wahyu datang hanya untuk memperkuat pendapat akal manusia dan untuk membuat nilai-nilai yang dihasilkan fikiran manusia itu bersifat absolut dan universil, agar dengan demikian mempunyai kekuatan mengikat bagi seluruh umat.
Selanjutnya kata Mu'tazilah, setelah akal mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk, akal memerintahkan supaya perbuatan baik itu dikerjakan dan perbuatan buruk atau jahat itu dijauhi. Jadi sebelum wahyu diturunkan Tuhan, manusia dalam Mu'tazilah, telah berkewajiban berbuat baik dan berkewajiban menjauhi perbuatan jahat. Wahyu datang untuk memperkuat perintah akal itu dan untuk membuat kewajiban-kewajiban akli tersebut menjadi kewajiban syar'i yang bersifat absolut.
Bagi golongan Asy'ariah, karena akal tidak mampu mengetahui soal baik dan soal buruk, manusia tidak mempunyai kewajiban aqli apa-apa sebelum turunnya wahyu.
Sekianlah sekedar masalah baik dan buruk dalam teologi Islam. Di samping teologi, fikih atau hukum Islam sebenarnya juga memusatkan pembahasan pada soal baik dan buruk itu. Pengertian wajib, haram, sunat dan makruh hubungannya erat sekali dengan perbuatan baik dan perbuatan buruk atau jahat ada yang haram dikerjakan dan ada yang makruh dikerjakan. Perbuatan-perbuatan tidak baik yang haram atau makruh kalau dikerjakan, membawa kepada kemudharatan dan kesengsaraan, sedang perbuatan-perbuatan baik yang wajib atau yang sunnah, kalau dikerjakan, membawa kepada kebaikan dan kebahagiaan.
Ancaman yang berupa neraka dan janji yang berupa surga di akhirat, juga erat hubungannya dengan soal baik dan buruk ini. Orang yang berbuat baik di dunia ini akan masuk surga di akhirat, dan orang yang berbuat jahat akan masuk neraka. Yang dimaksud di sini dengan perbuatan baik bukan hanya yang merupakan ibadat, tetapi juga perbuatan baik duniawi yang setiap hari dilakukan manusia dalam hubungannya dengan manusia, bahkan juga dengan makhluk lain, terutama binatang-binatang. Demikian pula yang dimaksud dengan perbuatan buruk dan jahat adalah perbuatan buruk, dan jahat yang dilakukan manusia, terhadap sesama manusia dan juga terhadap makhluk lain di dunia.
Jelas dalam Islam, soal baik dan buruk, di samping soal ketuhanan menjadi dasar agama yang penting. Ini demikian, karena yang ingin dibina Islam ialah manusia baik yang menjauhi perbuatan-perbuatan buruk atau jahat di dunia ini. Manusia serupa inilah sebenarnya yang dimaksud dengan mukmin, muslim dan muttaqi (orang yang bertaqwa). Mukmin ialah orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai sumber nilai-nilai yang bersifat absolut, muslim yang menyerahkan diri dan tunduk kepada Tuhan dan muttaqi atau orang bertaqwa adalah orang yang memelihara diri dari hukuman Tuhan di akhirat, yaitu orang yang patuh pada Tuhan, dalam arti patuh menjalankan perintah-perintah_Nya dan patuh menjauhi larangan-larangan_Nya. Perintah Tuhan hubungannya ialah dengan perbuatan-perbuatan baik sedang larangan Tuhan hubungannya ialah dengan perbuatan-perbuatan buruk dan jahat. Dengan tegasnya yang dimaksud dengan orang yang bertaqwa ialah orang baik yang mengerjakan kebaikan-kebaikan dan menjauhi kejahatan-kejahatan.
Kata muttaqin dalam Al Qur'an memang dihubungkan dengan nilai-nilai seperti suka menolong, sungguhpun si penolong sendiri berada dalam kekurangan, dapat menahan amarah, suka memberi maaf kepada orang lain, menepati janji, sabar, tidak tinggi hati, suka kepada kebaikan dan benci pada kejahatan, berbuat baik kepada orang lain, jujur, suka pada kebenaran dan sebagainya. Kata muttaqin dalam Al Qur'an selanjutnya dikontraskan dengan orang yang berbuat onar dan kacau dalam masyarakat, orang yang berbuat buruk, orang yang berdusta, orang yang bersikap zalim, penjahat, amoral dan sebagainya.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan mukmin, muslim dan muttaqin sebenarnya adalah orang yang bermoral tinggi dan berbudi pekerti luhur. Tidak mengherankan kalau soal akhlak dan budi pekerti luhur memang merupakan ajaran yang penting sekali dalam Islam. Dan soal itu demikian pentingnya sehingga, bukan hanya ibadat salat, puasa, zakat serta haji saja, tetapi juga hukum fikih dan konsep-konsep iman, Islam, surga, serta neraka, kesemuanya sebagai dilihat di atas, erat hubungannya dengan perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia. Tujuan dasar dari semua ajaran-ajaran Islam memanglah untuk mencegah manusia dari perbuatan buruk atau jahat dan selanjutnya untuk mendorong manusia kepada perbuatan-perbuatan baik. Dari manusia-manusia baik dan berbudi pekerti luhurlah masyarakat baik dapat diwujudkan.
Sumber: Buku Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya.